Episode Cintaku 02 “Ta’aruf Pertama”

January 27, 2009 at 08:46 (Story)

Yah, beberapa waktu lalu aku baru saja melewati masa yang mungkin cukup sulit bagi orang lain untuk melewatinya. Aku mengalami “kegagalan” dalam proses pernikahan. Setelah kujalani proses itu selama lebih dari satu bulan, dan telah kudapatkan hasilnya. Iya, hasilnya aku ditolak oleh pihak akhwat.

Hari ini, 19 Agustus 2007. Masih hangat pembicaraan orang tentang Pilkada DKI, ada yang kecewa, senang, bahkan memprotes dengan berapi-api. Di pagi yang cerah ini, Aku pergi ke rumah Ustadz untuk bertemu dengan Bu Dian mengembalikan proposal pernikahan milik Yulia. Kegagalan proses yang kujalani dengan Yulia membuat aku harus mengembalikan lagi proposalnya, karena memang aku sudah tidak ada lagi keperluan dengannya yang terkait hal tersebut.

Dari pembicaraan setelah hari-hari pembatalan prosesku dengan Yulia, Bu Dian berjanji kepadaku untuk mencarikan penggantinya dari teman-teman yang lain yang ia kenal. Setibanya aku di rumah Bu Dian ia keluar menemuiku dengan membawa beberapa lembar kertas yang ternyata itulah biodata akhwat yang akan diserahkan kepadaku.

“Ami, ini ada propsal lagi masuk coba aja dilihat ya…” kata Bu Dian sambil mendekat dan menyerahkan kepadaku lembaran kertas itu.

“Siapa nih yang ngasih bu?” kataku sambil memperhatikan lembaran kertas tersebut.

Kulihat dan kucermati isi proposal tersebut. Usianya 4 tahun lebih tua dariku, seorang guru di salah satu cabang SDI Al Azhar. Ketika kulihat fotonya biasa saja.

“Anak mana sih ni Bu…?” kataku sambil terus melihat-lihat.

“Tau dah, orang saya baru aja dikasih ni pagi ini” sahut Bu Dian dengan logat betawi yang khas.

“Ami coba aja liat-liat dulu bagaimana, siapa tahu bisa dilanjutkan…”

Kubaca dengan seksama tulisan demi tulisan di dalamnya. Ada satu yang menarik, ia menyebutkan penghasilannya di situ. Ya, penghasilannya 2,5 juta rupiah perbulan.

“Bu ni kok kaya gini amat sih?” sontakku dengan kaget.

“Hah, emang kenapa Ami?” Bu Dian menoleh ke arahku.

“Ini dia nulisin penghasilan, wah saya kaga mau dah…!”

“Emang maksudnya dia apa nulisin penghasilan, pengen ikhwannya berpenghasilan lebih gede dari dia apa?” sahutku jengkel.

“Wah, kaga dah kalo gini…” lanjutku.

“Berarti ni akhwat udah mementingkan materi banget kalo kata saya, pokoknya saya mah kaga mau ama yang beginian…!”

“Emang sih akhwat ini kata temen saya juga termasuk agak tinggi seleranya”

“Dia sekarang lagi nerusin kuliah S-1 di UNJ katanya” sahut Bu Dian beruntun.

“Yah, bodo amat dah mau kuliah kek apa kek pokoknya saya ngga mau…!”

“Saya ngga srek banget dengan dia udah menempatkan penghasilan di sini, entar kalo tinggian gaji dia daripada gaji saya malah repot kalo yang beginian”.

“Ya udah, jadi ngga mau nih…?” kata Bu Dia dengan perlahan.

“Iya bu, ngga mau!” sahutku.

“Ya udah kalo emang belum jodohnya”

“Sebenernya ada satu lagi nih, tapi dia mau ngasihnya entar siang jam setengah dua belas”

“Ami ke sininya jam satu aja ntar ya…?”

“Oh iya bu Insya Allah, saya datang nanti siang” sahutku sambil bersiap pulang.

Dalam perjalanan aku berfikir kenapa akhwat itu menuliskan gajinya di biodata. Menurutku ketika akhwat menuliskan gajinya di biodata itu sudah kurang ahsan. Saat ini sudah banyak kejadian akhwat sudah cukup umur untuk menikah tapi ikhwannya belum berani dan salah satu alasan mereka adalah masalah finansial. Jadi kalau akhwat itu menuliskan gajinya itu bisa membuat ikhwan yang mungkin “berminat” jadi mundur lagi. Lagi pula finansial itu bukan yang terpenting kan?

Sekitar jam 12.30 WIB kuterima sms dari ustadz yang meminta aku mengambil biodata itu pada sore hari saja ba’da ashar saat ustaz sudah pulang. Kuturuti permintaan ustadz dengan membalas sms itu.

Sore harinya setelah kutunaikan sholat ashar aku pergi ke rumah ustadz. Penunjuk waktu di HP-ku menampilkan angka 15.50 WIB saat kutiba di rumah ustadz.

“Assalaamu’alaikum…!”

“Alaikumussalaam, masuk Akh…” sahut ustadz dari dalam rumah.

Mendengarnya aku juga segera memasuki rumah ustadz sambil melepaskan jaket. Aku berjalan menuju kursi tamu yang ada di rumah ustadz, seraya kulihat ustadz keluar dari ruang tengah disusul kemudian Bu Dian. Kami duduk pada waktu yang bersamaan.

Kali ini yang kulihat ustadz yang memegang amplop, tapi bukan amplop yang besar dan berwarna coklat seperti sebelumnya melainkan hanya sebuah amplop putih seperti yang biasa digunakan untuk surat resmi.

“Pa kabar Akh?” kata ustadz membuka percakapan.

“Alhamdulillah ustadz baik” sahutku pelan.

“Akhi, ini ada biodata lagi tapi orangnya besar kemungkinan antum udah kenal”

“Antum jangan berfikir yang macem-macem walaupun udah kenal”

“Terus selama proses ini berjalan tolong dirahasiakan, jangan sampe ada orang lain yang tahu sampai jelas terjadi akad, apalagi orang DPRa antum” tukas Bu Dian.

“Emangnya siapa sih ustadz?”

“Abisan akhwat DPRa ane juga ngga kenal banyak, palengan cuman satu ato dua orang doang aja…” sahutku.

Setelah keterima amplop itu segera kubuka untuk memenuhi rasa penasaran. Kuambil lipatan beberapa lembar kertas yang ada di dalamnya. Kulihat langsung pada bagian nama, tak lama berselang kututup kembali lipatan tersebut dan menempatkan kertas itu ke dalam amplop.

“Oh, ternyata Mira ustadz…” kataku pelan setelah melipat kertas.

“Iya udah, antum udah kenal kan?” sahut ustadz.

“Yaa… namanya sih ane sering denger ustadz tapi orangnya yang mana ane kaga tau ustadz. Lah ini fotonya mana ustadz?”

“Ketemu ama dia di jalan juga ane kaga tau kalo itu orangnya” jawabku beruntun.

“Ini ngga ada fotonya karena insya Allah antum udah kenal…” bu Dian menyambung.

“Yaa… walau sebenernya ane ngga tau tapi ya udahlah ngga pa-pa bu”

“Afwan deh, sebenernya ane mau tau kenapa antum milihin ane ama Mira ini ustadz?” tanyaku penuh keingin tahuan.

“Ya, ada beberapa alasan ane milih Mira ini buat antum”

“Pertama dari segi watak, aktifitas, dan latar belakang akademis sepertinya antum cocok ama dia”

“Terus juga, untuk memperkuat barisan dakwah di DPRa mudah-mudahan dengan menikahnya antum ama Mira nanti bisa memberi kontribusi lebih ama DPRa antum”

“Dan dia juga kan bapaknya udah ngaji ama ustadz Tarmizi di DPRa antum sendiri jadi insya Allah keluarganya lebih mudah untuk dikondisikan” jawab ustadz menjelaskan.

“Oh gitu… Ya udah ustadz ane cuman pengen tau aja bukan berarti ane mau nolak” sambungku.

“Ya udah ustadz, nanti ane pelajari di rumah dah biar lebih enak” aku mencoba menutup pembicaraan.

“Ya udah bener, enakan di rumah aja mikirinnya” sahut ustadz.

Aku segera merapikan amplop dan lipatan-lipatan kertas tersebut sambil bersiap untuk pulang. Aku pun berdiri dari kursi tamu ustadz yang kemudian diikuti ustadz dan Bu Dian. Perlahan ku beranjak menuju ke luar sambil mengenakan jaket yang biasa kupakai naik motor.

“Ya udah ustadz kalo gitu ane pamit dulu dah..”

“Thayib deh, semoga semuanya dipermudah oleh Allah ya…”

“Amin, syukron ustadz” sahutku.

Aku segera menghampiri motorku dan pulang setelah berbalas salam. Dalam perjalanan pulang yang hanya sekitar 20 menit itu aku masih berfikir akan proposal yang aku dapat ini. Ku coba mengingat-ingat Mira pada saat melaksanakan berbagai kegiatan DPRa.

Tapi ternyata akupun sulit mengingat yang mana wajahnya. Iya, karena memang aku tidak mau mengingat-ingat wajah akhwat yang hanya ketemu pada saat melaksanakan kegiatan. Khawatir nanti hati ini yang terkotori. Akhirnya seperti ini, ketika mendapatkan proposal dari akhwat yang satu DPRa aku tidak tahu yang mana orangnya. Yang kutahu adalah bahwa dia memang akhwat DPRa karena namanya sering kudengar dan tercantum dalam berbegai kepanitiaan.

Setibanya di rumah kulihat jam dinding bulat berwarna putih yang tergantung di rumah ku menunjukkan waktu yang mendekati setengah enam. Ku bawa motorku masuk ke dalam rumah dengan “sedikit” tenaga untuk melewati tanggul yang sengaja dibuat Ayahku untuk menghalau banjir. Daerahku memang kerap mengalami banjir bila hujan lebat.

Seperti biasa, kubuka dan kupelajari biodata dari akhwat tersebut setelah menunaikan qiyamullail. Berharap lebih banyak faktor ilahiyah nantinya dalam berfikir. Kuperhatikan lagi namanya “Mira Amalina” kedua orang tuanya berasal dari kampung yang sama, Wonogiri. Masih merupakan daerah suku jawa, sama dengan ayah dan ibuku. Walau ayah-ibuku dari Jogja tapi kurasa jika aku menikah dengan orang wonogiri mereka tidak keberatan.

Pada hari Senin, Selasa, dan Rabu kugunakan untuk mensosialisasikan proposal ini kepada keluargaku. Alhamdulillah, dan benar saja dugaanku kedua orang tuaku tidak mempermasalahkannya. Begitupun saudara-saudaraku yang lain, kakak, adik, dan semuanya. Segera hal ini kukabarkan kepada ustadz.

“Ustadz, keluarga ane insya Allah ngga ada masalah dah jadi bisa dilanjut nih proses” kataku kepada ustadz melalui telepon.

“Oh gitu, ya udah disiapin aja untuk ta’arufnya, tapi antum masih perlu ta’aruf ngga, kan udah kenal?”

“Ya perlulah ustadz, walaupun satu DPRa kan tetep aja ada hal-hal yang harus ane pertanyakan…” jawabku.

Beberapa hari kemudian rencana melakukan ta’aruf disepakati pada tanggal 2 September 2007. Dan segalanya kupersiapkan untuk memuluskan rencana itu. Mulai dari meminta informasi lebih jauh tentang Mira Amalia kepada orang tertentu yang berkompeten. Tidak lupa juga aku melakukan sosialisasi dan pengkondisian terhadap keluargaku. Alhamdulillah tidak ada masalah ketika aku sampaikan ke orang tua. Tapi aku masih harus menyampaikan juga kepada Mbah Sumardi, beliau sangat dituakan di keluargaku.

Akhirnya tibalah saat kumenyampaikan kepada Mbah Sumar. Orang yang dituakan di keluarga besarku. Pa’e (panggilanku untuk Bapak) menyuruhku untuk berbicara langsung kepada Mbah Sumar, sekaligus meminta pendapatnya tentang hari baik untuk melangsungkan akad nikah nanti.

Hey, sekarang tanggal 2 September 2007, aku dijadwalkan berta’aruf dengan Mira Amalina. Kutelpon ustadz sejak ba’da subuh untuk mengkonfirmasi waktu pelaksanaan ta’arufku.

“Assalaamu’alaikum ustadz, entar ane ta’arufnya jam berapa nih…?” kataku membuka pembicaraan.

“Alaikumussalaam, oh iya nati dah ane tanya dulu ama akhwatnya, antum hari ini nggak ada acara?”

“Kalopun ada ya udah ane cancel lah ustadz…” sahtuku agak becanda.

“Ya udah antum tunggu kabar dari ane aja ya”

“Thayib ustadz, jazakallah khair, Assalaamu’alaikum…”

“Wa iyyakum, wa’alaikumussalam” lanjut ustadz seraya menutup telepon.

Tidak lama berselang kuterima sms dari ustadz mengatakan ta’aruf akan dilakukan pada pukul 11.00 di rumah beliau. Huih…. Perasaanku bercampur antara senang, bingung, dan khawatir. Tak tahulah bagaimana nantinya.

Jam dinding bulat berwarna putih di rumahku telah menunjukkan pukul 10.15 WIB. Sudah waktunya aku bersiap-siap untuk ke rumah ustadz untuk berta’aruf dengan Mira Amalina. Mandi sudah selesai kulaksanakan, untuk memilih baju yang akan digunakan kulihat pada gantungan baju di kamarku.

Pilihanku jatuh kepada kemeja berwarna biru tua dengan kotak-kotak berwarna putih. Celana yang kukenakan berwarna biru agak tua dengan harapan cocok dengan warna bajunya. Tidak lupa pula kusiapkan kaca mata tua (sudah bersamaku sejak SMP) yang memang selalu kukenakan. Sepatu sendal merk POWER yang kubeli beberapa pekan yang lalu juga kuambil dari wadahnya setelah semuanya siap aku segera keluar dari kamar bergegas menuju ruang depan untuk mengeluarkan motor bebekku. Kukeluarkan motor dengan hati-hati (maklum, pintu dan rumahnya sempit jadi kalo nggak ati-ati bisa mentok), setelah jaket tersemat, helm menggantung di depan jok ku selah Suzuki SMASH dengan nomor polisi B 6015 SAF itu. Tak karuan perasaanku waktu itu, mengingat ini ta’aruf pertamaku. Sepuluh menit berselang aku tiba di rumah ustadz

“Assalaamu’alaikum…” aku masuk ke dalam ruang tamu rumah ustadz. Kulihat masih kosong, sebelum Bu Dian keluar melalui pintu tengah.

“Wa’alaikumussalaam, masuk ami…” sahut Bu Dian diiringi Mira amalina di belakangnya. Kulihat Mira dengan jilbab segi empat berwarna putih polos, baju berbahan kaos warna biru muda dipadu dengan manset yang juga berwarna putih, roknya aku tidak terlalu memperhatikan, hanya saja dapat kulihat ia mengenakan kaos kaki. Sempat kudapati seulas senyum terkembang dari bibirnya ketika sesaat pandangan kami bertemu.

“Eh, iya Bu… makasih.” sahutku sambil ambil posisi di salah satu kursi yang ada di ruang tamu berukuran sekitar 1,5 x 2,5 meter itu. Entah sudah diatur atau bagaimana, posisi dudukku dan Mira Amalina lurus dan dapat saling berhadapan, Bu Dian mengambil posisi di samping Mira Amalina. Sesaat setelah kami semua duduk Ustadz keluar dari pintu tengah, aku langsung berdiri menyalaminya dan beliau duduk di sampingku.

Setelah mengucapkan salam Ustadz mencoba memecah kebekuan yang ada.

“Baik, mari kita buka saja ta’aruf ini dengan mengucapkan basmalah”

“Bismillahirrrahmaanirrahiim” serentak kami semua mengucapkan.

Tidak terlalu jelas pembicaraan kita isinya apa, kelihatan bahwa baik Ustadz maupun Bu Dian menginginkan proses ini dilanjutkan. Karenanya pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dan jawabannya pun terkesan standar-standar aja. Hampir semua hal sudah jelas tertera di dalam biodata masing-masing, mungkin itu juga yang membuat ta’aruf ini agak sepi obrolan.

Kuperhatikan wajahnya, cantik, berkulit putih, tingginya sekitar 150an centimeter. Yah, memang tak ada masalah pada akhwat ini. Insya Allah proses berikutnya bisa segera dilanjutkan, walau aku harus terlebih dahulu mensosialisasikan kepada keluarga.

Singkat cerita ta’arufku selesai dengan batas waktu maksimal untuk memberikan kabar adalah satu pekan. Belum sempat aku beranjak pulang terdengar suara adzan zhuhur dari masjid yang letaknya tak jauh.

“Afwan ya bu, saya nitip dulu mau ke masjid” kukatakan kepada Bu Dian sambil mulai berdiri. Kulihat ustadz juga bersiap-siap menuju masjid.

“Oh, iya ngga pa-pa tafadhol” sahutnya sambil mempersilakan.

Kutunaikan sholat zhuhur dan berdo’a setelahnya agar Allah memilihkan untukku yang terbaik. Semoga dimudahkan kalau memang belum, tunjukkanlah padaku yang terbaik. Seusai menunaikan shola zhuhur aku segera menuju rumah Ustadz.

“Assalaamu’alaikum…”

“Wa’alaikumussalaam” sahut Bu Dian dari dalam. Tak lama kemudian kulihat ia keluar dari pintu tengah.

“Lah, mana si Mira bu?”

“Udah pulang…?” tanyaku beruntun sambil menempati kursi yang sama seperti sebelum sholat tadi.

“Iya, dia tadi langsung puang soalnya lagi buru-buru” jawab bu Dian.

“Ya udah deh bu, saya pulang juga skalian”

“Ya udah, tapi Ami pesen saya dipikirkan baik-baik ya dan semoga Allah memudahkan semuanya”

“Assalaamu’alaikum”

“Wa’alaikumussalaam”

Aku keluar dari rumah ustadz dan menaiki motorku untuk segera pulang. Selesai ku stater motor hitamku ini, tak berapa lama kemudian muncul ustadz yang baru pulang dari masjid.

“Lho, akh kok udah mau pulag aja…?” sapa ustadz.

“Iyalah ustadz, kan semuanya udah jelas tinggal ane sosialisasi ke keluarga dan ditambah ama isrikhoroh” sahutku.

“Ya okelah kalo gitu ati-ati ya…!”

“Insya Allah ustadz, assalaamu’alaikum…!”

“Wa’alaikumussalaam”

Sepanjang perjalanan pulang aku terus memikirkan hal-hal yang mungkin akan terjadi. Mengingat sama-sama bersuku jawa maka insya Allah Pa’e (panggilan jawa utk ayah) tidak ada masalah. Ditambah lagi akhwatnya sudah bekerja, aku yakin hal itu tentu akan menambah kepercayaan meeka akan akhwat ini.

(bersambung)

Permalink Leave a Comment

Pengurusan Akta Kelahiran

January 27, 2009 at 08:28 (Uncategorized)

Sekedar ingin berbagi..

Tanggal 1 Januari 2009 lalu saya dikaruniai seorang anak laki-laki yang memang sudah kami dambakan. Setelah mengurus semua keperluan maka tibalah saatnya saya mengurus akta kelahiran. Ayah saya diantaranya sudah mengingatkan untuk mengurus akta kelahiran ini sejak jauh-jauh hari, tapi nyatanya saya baru bisa mengurusnya pada tangal 14 Januar 2009, telat memang tapi belum sampai pada batas akhir.

Setelah meminta surat keterangan dari RT dan RW saya pergi ke kantor kelurahan. Di kantor RT dan RT saya memberikan masing-masing Rp 5.000,- walaupun mereka tidak berani meminta. Umumnya masyarakat di wilayah sini sudah memahami, bahwa paling tidak harus memberi sebesar itu dan saya memberi dengan nilai minimal. Alasananya sederhana saja, kan kasihan mereka bersusah payah mengurus warga selama ini jadi biarlah kita memberikan sekedarnya. Tapi ini sudah menjadi semacam konvensi di masayarakat kita.

Kantor kelurahan Kebayoran Lama Utara meminta Rp 15.000,- setelah salah satu staf perempuan selesai mengetikkan surat pengantarnya untuk ke suku dinas kependudukan dan catatan sipil Jakarta Selatan. Kalo di kelurahan memang petugas yang meminta dengan mengatakan:

“Biayanya lima belas ribu” tanpa ada kejelasan biaya itu untuk apa.

Tapi ada hal lain yang menarik saat saya mengurusnya di kelurahan, surat yang telah diketik oleh stafnya deberikan pada saya dan saya disuruh ke lantai atas untuk meminta tanda tangan kepada lurah atau wakilnya. Setelah saya ke lantai atas ternyata pak wakil lurah sedang berada di bawah, kemudian saya temui di lantai bawah. Saya segera temui pak wakil lurah dengan membawa berkas yang diberikan. Berikut dialognya.

“Permisi pak, mau minta tanda tangan…” saya mendekat sambil menyodorkan berkas yang harus ditanda tangan.

Pak wakil lurah terlihat sedang BeTe, sambil duduk di bangku dan memegang sebatang rokok jisamsu kalau tidak salah. Melihat saya mendekat segera ia menoleh dan menanyakan.

“Punya korek nggak?” seraya menunjukkan sebatang rokok yang dipegang sebagai tanda koreknya akan digunakan untuk menyulut rokok tersebut.

“Wah, nggak punya pak…” jawabku dengan nada agak kebingungan. Aneh ya, ini kan di kantor kelurahan, dan lagi yang merokok itu wakil lurah, apakah kantor kelurahan tidak termasuk tempat yang dilarang merokok?

Singkat cerita aku sampai di kantor disdukcapil jakarta Selatan di bilangan Blok-A sana. Di sini saya dikenakan biaya Rp 45.000,- dengan kata-kata yang sama.

“Biayanya Empat Puluh Lima Ribu” begitu kata petugasnya. Entah buat apa… Ia katakan akta kelahiran akan selesa dalam waktu dua minggu. Dan hari ini tepat dua minggu yang dijanjikan. Tapi ternyata akta kelahiran untuk putra saya belum selesai juga. Padahal saya sudah ijin sama kantor untuk datang telat karena mau ambil akta dulu. Jadi ngga enak ma atasan karena disuruh dateng lagi minggu depan. Artinya saya harus ijin telat lagi minggu depan.

Fiuuh…

Permalink Leave a Comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.