Episode Cintaku 01

January 21, 2009 at 03:56 (Story)

Hari ini seingatku tanggal 28 Juni 2007, aku senang sekali karena tiba-tiba saja Ustadz memanggilku, meminta aku datang ke rumahnya. Sebelumnya aku tak tahu kedatanganku ini untuk masalah apa. Tapi setelah aku sampai di rumahnya, kemudian beliau keluar menemuiku dengan membawa sebuah amplop besar berwarna coklat. Tidak heran lagi itu adalah amplop yang berisi biodata seorang akhwat. Dan ternyata benar, ustadz pun langsung memberikannya kepadaku.

 

Dengan berpura-pura tidak tahu aku menanyakan kepada ustadz.

 

“Apaan tuh ustadz?” ustadz melemparkan senyumnya kepadaku sambil mengatakan.

 

“Antum udah siap nikah kan Akhi?” walaupun sudah dapat menerka dari awal tapi aku tidak dapat menutupi rasa kaget saat mendengarkan pertanyaan itu.

 

“Hehe.. Mangnya kenapa ustadz?” jawabku dengan polos.

 

“Nih, ada proposal akhwat yang antum bisa coba lihat dulu dan pelajari di rumah.” kata ustadz. Ustadz memberikan kepadaku amplop tersebut dan akupun mencoba melihat isinya.

 

“Anak mana nih ustadz?” tanyaku bermaksud mengetahui tempat tinggal si akhwat. Mendengar pertanyaanku ustadz hanya tersenyum sambil membenahi posisi duduknya.

 

“Udah… Antum pelajari aja dulu di rumah sambil sholat istikhoroh.” kata ustadz. Aku segera merapikan dan memasukkan amplop coklat tersebut ke dalam tas yang kubawa.

 

“Nanti kalo ada yang mau ditanya, telpon ane aja ya…” Katanya sambil senyam-senyum memperhatikan ekpresi wajahku yang terlihat kikuk.

 

Aku memang terlihat kikuk, betapa tidak hal yang selama ini aku hanya tahu dan merasakan lewat candaan dan gurauan dengan teman-teman, sekarang sedang aku hadapi. Wuih serem…!

 

“Ya udah ustadz, ane pulang dulu dah ntar malem ane pelajari biodata akhwat ini.” sambil berjalan menuju pintu keluar kuucapkan kata itu. Dalam suasana hati yang tidak karuan kustater SMASH ’04 yang selama ini menemani perjalananku. Perlahan kukendarai motor bebek yang kubeli dari uang hasil mengajar privat di sana-sini. Selama tiga tahun kutekuni menjadi pengajar privat dan hasilnya kugunakan untuk membayar cicilan kredit motor kesayanganku ini.

 

Tibalah waktunya di sepenggal malam sesudah kutunaikan qiyamullail. Sengaja aku ingin membuka dan mempelajari biodata akhwat tersebut saat telah kutunaikan sholat malam. Dengan harapan pada saat itu kondisi hatiku sedang bersih tanpa adanya kepentingan nafsu duniawi sehingga pertimbangan yang kugunakan hanyalah pertimbangan ilahiyah.

Memang sudah menjadi prinsip bagi diriku, ketika aku menerima proposal pernikahan dari seorang akhwat nanti sebisa mungkin aku akan menyetujui proposal yang diberikan oleh ustadz. Karena ustadz pun pasti memilihkannya untukku dengan pertimbangan yang matang. Jadi aku hanya akan mencari alasan untuk menerima proposal itu, bukan alasan untuk menolaknya. Dan memang itu yang sekarang aku lakukan.

 

Kubuka dengan perlahan amplop coklat besar yang memang kondisinya sudah terbuka. Kukeluarkan isinya ada beberapa lembar. Selembar foto berukuran 2R terlihat seorang akhwat dengan jilbab coklat dalam proposal tersebut. Kulihat ia bernama Yulia, dengan usia empat tahun lebih tua dariku. Orang tuanya berasal dari Jawa Timur dan Bogor. Yulia seorang CPNS di LIPI yang berkantor di Cibinong. Aktifitas dakwahnya juga begitu memukau, Ia salah satu pendiri SMPIT boarding school yang cukup terkenal di Bogor. Tentang pekerjaannya sekarang, subhanallah…! Cukup jauh perjalanan dari Bilangan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan sampai ke Cibinong yang sudah berbeda provinsi.

 

Jujur, tidak ada masalah bagi diriku akan biodata Yulia, mungkin yang harus kupertimbangkan adalah persetujuan dari keluarga. Setelah kusampaikan perihal Yulia ini ke keluargaku ternyata merekapun tidak ada masalah. Segera saja kusampaikan ke ustadz perkembangan dari keluargaku. Ustadz segera mengatur sebuah pertemuan agar aku dapat melihatnya tanpa diketahui oleh Yulia tersebut.

 

Pada hari yang ditentukan Sabtu, 7 Juli 2007 Yulia diminta datang ke rumah ustadz. Alsannya Bu Dian istri ustadz ada perlu. Saya diminta datang lebih dulu dan berada di dalam rumah sementara Yulia dan Bu Dian berada di teras. Jadi saya bisa memperhatikan Yulia dari dalam rumah di balik gordin yang agak tipis.

 

Pembicaraan yang dilakukan antara Bu Dian dan Yulia pun ternyata seputar penggenapan separuh din tersebut. Sesekali Bu Dian masuk dan menanyakan kepadaku.

 

“Ami, gimana dilanjutin gak?” kata Bu Dian.

 

Kuperhatikan, sepertinya ada yang aneh pada Yulia ini. Karena ia datang ke rumah Bu Dian dengan mengenakan jilbab yang sangat minim. Ya, jilbab yang ia kenakan hanya sebatas pundak bahkan separuh lengan atasnyapun tak tertutupi. Janggal dalam hatiku melihatnya.

 

Kuperhatikan lagi dengan seksama, ternyata baju yang ia kenakan juga terbilang cukup ketat mungkin semacam baju yang berbahan sweater, dengan motif garis-garis merah dan hitam. Aku dapat melihat bentuk lurus separuh lengan atasnya yang tidak tertutupi jilbab. Kukatakan kepada Bu Dian.

 

“Bu, kok Yulia bajunya kaya gitu sih?” kataku sambil menunjukkan muka kecewa.

 

“Udah bajunya ketat, jilbab pendek lagi masa akhwat tarbiyah pakeannya kaya gitu sih…!?” timpalku bernada protes sebelum Bu Dian sempat menjawab.

 

“Aah, udahlah itu mah entar aja dibetulin kalo udah nikah.”

 

“Yang penting sekarang dilanjutin gak nih?”

 

“Kalo iya saya kasih nih biodata Ami…” sergahnya seolah mendesakku.

 

“Ya udah, ya udah kasihin aja dah… nggak pa-pa!” Jawabku agak tergesa-gesa.

 

Bu Dian pun segera keluar dan memberikan biodata diriku kepada Yulia. Kulihat dari dalam ada pembicaraan sebentar diantara mereka sebelum akhirnya Yulia pulang dengan biodata diriku ada di tangannya.

 

Tak beapa lama Bu Dian masuk menemuiku.

 

“Ami, kalo masalah kaya gitu mah nanti aja dibicarakan setelah Ami dan Yulia berada dalam ikatan pernikahan.” katanya.

 

“Iya sih Bu, tapi saya kok agak aneh aja akhwat pakeannya kaya gitu…” jawabku masih dengan nada kecewa.

 

“Apalagi kalo ngeliat sepak terjangnya yang cukup meyakinkan di dunia dakwah, kayaknya aneh aja gitu…!”

 

“Salah satu pendiri Sekolah Islam Terpadu Boarding terkenal di Bogor!” sahutku lagi.

 

Selesai pembicaraan antara Bu Dian dengan Yulia itu kamipun segera mengakhiri pertemuan kali ini. Bu Dian mengatakan Yulia akan memberikan respon paling lama satu pekan dari sekarang.

 

Sepekan telah berlalu, saat ini 14 Juli 2007 aku bermaksud menanyakan perkembangan proses ini ke Bu Dian.

 

“Assalaamu’alaikum!” aku mendahului pembicaraan melalui telepon tersebut sesaat setelah ia mengangkat gagang teleponnya.

 

“Alaikumussalam!” sahut Bu Dian di seberang telepon yang lain.

 

“Gimana bu, sudah ada kabar belum dari Yulia?” tanyaku dengan penuh harap.

 

“Belum Ami, dia sih janjinya mau ngabarin entar Sabtu depan” jawab Bu Dian dengan logat Betawinya yang sangat kental. Wajarlah, walaupun ia berdarah jawa tapi suaminya Betawi tulen.

 

“Pekan ini dia belum bisa ngabarin, soalnya belum melakukan pengkondisian ama keluarganya.” lanjut Bu Dian.

 

“Oh, gitu bu ya udah ga pa-pa dah!” sahutku.

 

“Sabar dululah Ami, orang mau nikah mah ga usah buru-buru…!” jawabnya sambil meledek.

 

“Iya bu gak pa-pa kok, beneran!” dengan semangat aku menambahkan.

 

“Ya enggak sih bu, emangnyaa siapa yang buru-buru orang saya cuman nanyain perkembangan kok dibilang buru-buru…” sahutku lagi.

 

“Ya udah besok aja lagi ya, pekan depan insya Allah ada kabar.”

 

“Iya bu, makasih ya!”

 

Kututup telepon setelah kami berbalas salam. Ya Allah, ternyata aku masih harus terus bersabar. Tak apalah, toh buah dari kesabaran biasanya adalah sesuatu yang baik.

 

Dengan sabar kumenanti satu pekan lamanya untuk mendapatkan kabar dari Yulia. Setelah cukup lama kumenanti kabar sampailah pada Sabtu, 21 Juli 2007 kutanyakan lagi kepada Bu Dian melalui telepon.

 

“Gimana bu, kabar dari Yulia?”

 

“Ami, pekan ini ternyata ngga bisa juga, dia sakit, kecapekan kali, ke dokter Sabtunya terus ya Ahadnya harus istirahat.” begitu sahutnya.

 

“Ami yang sabar ya, orang mau nikah itu emang banyak cobaannya…” tutur Bu Dian mencoba menasehatiku.

 

“Iya udah bu, abis mau diapain kalo udah gini mah…?” sahutku agak kecewa. Memang akupun sudah kurang semangat untuk melanjutkan proses ini. Sepertinya sudah terlalu lama tidak ada kabar berita. Entah Allah bermaksud apa aku belum dapat memahaminya.

 

Disela-sela waktu malam kusempatkan untuk berkeluh-kesah kepada Allah. Apakah memang harus tertunda lagi proses penggenapan separuh din ini. Aku berintrospeksi diri lebih jauh, apakah memang niatku yang harus lebih dibersihkan lagi. Apakah motivasiku yang harus diluruskan lagi.

 

Tak henti-hentinya aku bermohon keampunan kepada Allah. Ku pinta kemudahan akan urusan melepas masa lajang ini. Bilakah Yulia memang ditakdirkan untuk menjadi pasangan hidupku permudahlah segala urusannya ya Allah. Dan bila memang Yulia bukan untukku segeralah berikan kejelasan akan hal tersebut.

 

Seiring waktu berlalu aku menjadi tidak terlalu memikirkan proses tersebut. Aku kini disibukkan oleh penyelenggaraan Pilkada DKI di mana PKS mengusung Adang-Dhani. Hiruk-pikuk kesibukan kulalui dari mulai melakukan pengecekan data pemilih di kelurahan sampai pemantauan di tingkat TPS.

 

“Mpfuih…..!”

 

Akhirnya selesai juga Pilkada DKI. Walaupun kutemukan kecurangan di sana-sini tapi paling tidak saat ini tugasku sebagian besar sudah selesai. Sampai mengawal kotak suara serta data-data pendukung ke KPU Jakarta Selatan. Mandi, makan malam yang tertunda, dan merapikan ruang kamarku yang berantakan telah selesai kulakukan. Jam beker kotak dikamarku menunjukkan pukul 22.30 WIB ketika kucoba memejamkan mata. Ku coba melepas penat yang telah menghinggapi sedari pagi, siang, sampai malam ini.

 

Hari-hari pun berlalu, saat ini Ahad 12 Agustus 2007. Karena ada urusan terkait Pilkada DKI aku pergi ke rumah ustadz. Di sana aku bertemu Bu Dian, nyaris aku tidak lagi mempedulikan prosesku. Mungkin karena memang sudah terlalu lama. Proposal milik Yuliapun entah ada di sisi mana dalam kamarku. Memang masih di kamarku tapi sudah tak kupedulikan lagi posisinya di mana.

 

“Begini Ami, ada yang mau saya sampaikan terkait dengan prosesnya Ami…”

 

“Oh, iya saya hampir lupa abisan sibuk ama Pilkada nih Bu.” jawabku.

 

“Jadi proses ini tidak bisa dilanjutkan, karena ada penolakan dari pihak akhwat, dari keluarga akhwat tepatnya.”

 

“Kalo akhwatnya sendiri sih sebenarnya ngga ada masalah…” tukas Bu Dian beruntun.

 

“Oh, ya udah bu kalo gitu saya juga udah ngga berharap banget sih soalnya udah kelamaan proses ini ngga ada kabar.” sahutku.

 

“Bukan begitu Ami, saya bukan menghalang-halangi Ami, ini memang ada yang nggak sreg ama proses ini.”

 

“Oh ngga pa pa bu, sampai saat ini saya juga masih zero expectation kok.” jawabku.

 

“Jadi ngga usah kuatir saya ngga akan frustasi insya Allah karena saya juga belon ada rasa seneng atau yang lain sebagainya” sambungku dengan nada lebih tegas.

 

Di sinilah kudapatkan kabar kejelasan tentang prosesku dengan Yulia. Yah, setelah diputuskan seperti ini aku lantas memberitahu keluargaku karena memang mereka sebelumnya sudah kukabari tentang hal ini. Beragam komentar kudapatkan dari kejadian ini, ada yang memaklumi dan ada juga yang kurang enak didengar. Akan tetapi aku memaknai semuanya sebagai tahap yang harus kulalui.

 

(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.